Sejarah Tanjung Benoa (bagian 3)

35 Shares

Hi Pencinta Watersport Bali, pada bagian 1 dan bagian 2 kami sudah jelaskan sejarah Tanjung Benoa. Nah, ditulisan ini kami akan sambung jadi bagian 3 sekalian bagian terakhir. Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa ada 5 etnik yang mendiami desa adat Tanjung Benoa yaitu etnis Tionghoa, Bali, Bugis, Jawa, dan Palue (Flores).

Sebagai perkampungan dari masyarakat multi-etnik Tanjung Benoa Bali memiliki beragam adat istiadat, etnis dan agama. Etnis mayoritas merupakan mayoritas Bali yang terdiri dari ± 70% dan etnis lainnya terdiri dari etnis Tionghoa ± 7%, etnis Bugis dan Jawa sekitar ± 18% dan sisanya adalah etnis Palue dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Terdapat lima agama yang berkembang di Desa Adat Tanjung Benoa, antara lain agama Hindu yang merupakan agama mayoritas dan empat agama lainnya, yaitu agama Islam, Kristen (Kristen Katolik dan Kristen Protestan) serta agama Buddha.

Sejarah Tanjung Benoa
Sejarah Tanjung Benoa – tempat Ibadah & Pemakaman di Tanjung Benoa

Sejarah Tanjung Benoa (3)

Setelah etnis Tionghoa, Bali, dan Bugis datang ke Tanjung Benoa maka ada 2 etnik yang menyusul datang yaitu etnis Jawa dan Palue (Flores). Yuk kita telusuri kedatangannya…

4. Etnik Jawa

Sejarah Tanjung Benoa – Kedatangan Etnik Jawa

Etnis Jawa datang menetap ke Desa Adat Tanjung Benoa tidak lama setelah etnik Bugis. Tahun tepatnya etnis Jawa datang ke daerah ini masih belum diketahui dengan jelas. Menurut Kelian Banjar Panca Bhinneka diperkirakan etnis Jawa datang kurang lebih 10 tahun setelah etnis Bugis tinggal di kawasan ini.

Masyarakat Jawa yang tinggal di daerah ini banyak yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur (khususnya dari daerah Banyuwangi). Etnis Jawa datang ke Bali karena letak pulau yang saling berdekatan selain untuk mencari peluang pekerjaan yang lebih baik daripada di daerah asal mereka yang memiliki penduduk dengan jumlah yang cukup besar di setiap kota di Pulau Jawa dan kekurangan lapangan pekerjaan.

Masyarakat Jawa yang dominan beragama Islam ini membangun permukiman di sekitar Masjid, khususnya di Lingkungan Panca Bhinneka. Etnis Jawa membangun permukiman di bagian barat Lingkungan Banjar Panca Bhinneka. Permukiman etnis Jawa bergabung dengan etnis Bugis karena sama-sama membangun permukiman dekat dengan Masjid yang merupakan tempat peribadatan bersama. Etnis Jawa dan Bugis merupakan dua etnis utama yang menganut agama Islam.

Saat ini sudah berdiri Masjid Jami’ Mujahidin yang dibangun pada tgl 8 Maret 1997 atau 28 Syawal 1417 H. Berikut fotonya..

Masjid Jami' Mujahidin
Masjid Jami' Mujahidin
Masjid Jami' Mujahidin
Masjid Jami' Mujahidin
Sumber foto: balimuslim.com

5 Etnik Palue, Flores

Sejarah Kedatangan Etnik Palue, Flores

Penduduk Palue berasal dari sebuah pulau kecil yang terletak di perairan sebelah utara Pulau Flores dan secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penduduk etnis Palue merupakan etnis dengan jumlah yang paling sedikit. Etnik Palue yang tinggal di Tanjung Benoa ini datang sekitar tahun 1970-an. Seperti kutipan yang didapat dari wawancara dengan Bendesa Adat Tanjung Benoa,

…mulai masuknya tahun 1970 hingga 1971, Kristen masuk dari suku Palue di Nusa Tenggara Timur, sehingga tahun 1994 dibuat Gereja di Puja Mandala di Nusa Dua, itu dibuat atas pertimbangan dari Tanjung Benoa…

Etnik ini datang karena Tanjung Benoa Bali membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan untuk menyelam serta melakukan pelayaran. Masyarakat etnis dari Flores ini sangat kuat juga lincah untuk menyelam baik untuk menangkap hasil laut ataupun menjadi penjaga pantai. Hal ini menyebabkan 90% dari etnis Palue bekerja sesuai dengan keahlian mereka yaitu sebagai anak buah kapal dan bekerja dalam bidang pariwisata khususnya water sport. Masyarakat etnis Palue selalu dipilih menjadi pengawas atau instruktur saat para wisatawan melakukan wisata air.

Permukiman etnis Palue tidak memiliki daerah yang pasti karena jumlah etnis yang tidak banyak. Etnis dari Flores ini masih hidup secara nomaden dan tidak menetap di Tanjung Benoa. Kebanyakan masyarakat etnis Palue mengontrak tanah ataupun tinggal sementara di kos yang dibangun oleh masyarakat desa adat ini.
Berbeda dengan etnis lain yang berusaha untuk bermukim di daerah yang dekat dengan tempat peribadatan mereka. Pada umumnya mereka berusaha mengontrak atau tinggal di kos-kosan yang dekat dengan pekerjaan mereka, yaitu kawasan di sekitar pantai karena tidak terdapat gereja pada kawasan desa adat ini. Etnis Palue ini dominan menyewa tanah atau menyewa kamar (kos) di Lingkungan Banjar Kertha Pascima karena banjar ini cukup dekat dengan dermaga. (sumber: PPS Unud)

Cek Sejarah Tanjung Benoa Bali bagian 1 dan bagian 2 yuk!

Kasi 5 Bintang Dong
(5 suara)

35 Shares

2 thoughts on “Sejarah Tanjung Benoa (bagian 3)”

  1. Sangat mengejutkan saya baru kali ini mendengar sejarah Desa kelahiran saya Tanjung Benoa yang amat saya cintai…..mengesankan.

    Reply

Leave a Comment