Sejarah Tanjung Benoa (bagian 1)

432 Shares

Hi Pencinta Watersport Bali. Kali ini kami akan bahas tentang sejarah Tanjung Benoa Bali. Dalam tulisan ini, kami akan bagi dalam beberapa tulisan seputar sejarah Tanjung Benoa di Bali. Yuk kita simak bagian 1…

Tanjung Benoa, sebuah tempat di ujung “kelingking” kaki Pulau Bali. Pantai di tempat ini cukup unik karena pasang-surut air lautnya sangat tergantung pada “Purnama-Tilem”. Karang lautnya juga masih lestari, sehingga ombak akan pecah di luar, sebelum menyentuh bibir pantai. Karena itulah dikenal istilah “laut dangkal” dan “laut dalam”. Nah, karena adanya laut dangkal inilah, Tanjung Benoa terkenal dengan aktifitas watersportnya. Pesatnya perkembangan kawasan wisata air ini, tentu saja tidak terlepas dari sejarah Tanjung Benoa.

Sejarah Tanjung Benoa

Ini Dia Sejarah Tanjung Benoa

Berbicara mengenai sejarah Tanjung Benoa Bali, maka tidak terlepas pula dari sejarah etnik yang mendiaminya. Terdapat lima etnik pokok di Desa Adat Tanjung Benoa, yaitu etnis Tionghoa, Bali, Bugis, Jawa dan Palue (Flores). Kelima etnik ini memiliki sejarah masing-masing, sehingga mereka menjadi masyarakat etnis di desa adat ini.

Berikut akan dibahas mengenai sejarah kedatangan dan lokasi permukiman dari masing-masing etnik.

1. Etnik Tionghoa

Sejarah Kedatangan Etnik Tionghoa

Sejak Zaman Dinasti Tang, bandar-bandar pelabuhan di Pesisir Tenggara Tiongkok memang telah menjadi bandar-bandar perdagangan yang besar. Bandar yang tercatat sebagai bandar pelabuhan terbesar dan tersibuk di dunia pada zaman tersebut adalah Quanzhou. Pertumbuhan perdagangan di Daerah Pesisir Tenggara Tiongkok ini menyebabkan banyak sekali orang-orang Tionghoa merasa perlu keluar berlayar untuk berdagang dan memperluas daerah perdagangan. Tujuan utama pedagang Tionghoa adalah Asia Tenggara. Pelayaran sangat bergantung pada angin musim, maka setiap tahunnya para pedagang asal Tiongkok ini akan bermukim di wilayah-wilayah Asia Tenggara yang disinggahi mereka. Keadaan inilah yang menyebabkan terdapat beberapa pedagang yang memutuskan untuk menetap dan menikahi wanita setempat dan ada pula pedagang yang pulang kembali ke daerah asal untuk terus berdagang.

Pelayaran masyarakat Tionghoa mulai masuk ke Indonesia sekitar awal abad ke-7 dan menyebar ke seluruh pelosok tanah air. Sejak abad ke-11, ratusan ribu masyarakat Tionghoa mulai memasuki kawasan Indonesia. Kawasan utama Indonesia yang disinggahi oleh masyarakat Tionghoa adalah daerah pesisir karena mata pencaharian utama mereka di bidang perdagangan dan pelayaran.

Menurut Bendesa Adat Tanjung Benoa, etnis Tionghoa merupakan etnis yang pertama kali bermukim di Kawasan Tanjung Benoa. Hal tersebut dilihat dari klenteng yang telah dibangun lebih dari 400 tahun yang lalu. Umur klenteng yang berumur lebih dari 400 tahun ini memberitahukan bahwa masyarakat Tionghoa mulai datang ke kawasan ini sekitar abad ke-16, tepatnya tahun 1546. Klenteng tersebut dibangun setelah terdapat banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal di kawasan ini yang dominan beragama Buddha. Hal ini juga didukung dengan penjelasan dari Pemangku Klenteng Caow Eng Bio yang menyatakan,

…kira-kira Klenteng ini umurnya hampir lebih dari empat ratus tahun, itu yang tertulis dari prasasti yang ada di belakang itu, yang ada nama orang yang buat Klenteng ini, tapi para guru bahasa Tiongkok sama Mandarin yang sudah banyak datang ke sini saja tidak bisa menerjemahkan nama-nama yang ditulis di batu itu, mungkin itu bahasa Tiongkok Kuno, soalnya batunya yang dipakai saja batu tua yang sekarang hampir tidak bisa ditemukan lagi entah itu batu laut apa yang digunakan untuk mengukir nama yang dulu buat konco ini. Cerita dari kakek saya juga bilang umur Klenteng ini sudah empat ratus tahunan dibangun waktu orang Tionghoa datang dan tinggal di sini waktu itu…

Awalnya masyarakat Tionghoa datang ke Kawasan Tanjung Benoa Bali untuk tujuan perdagangan baik untuk menjual benda-benda antik maupun benda khas Tiongkok, seperti kain sutra, giok dan guci. Mereka berkunjung ke Tanjung Benoa karena lokasi Tanjung yang dikelilingi oleh laut dan masyarakat Tionghoa dulunya sering melakukan pelayaran dalam berdagang. Saat tiba di Tanjung Benoa banyak pedagang asal Negara Tiongkok ini yang mulai menetap. Pelayaran masyarakat Tionghoa menggunakan perahu yang disebut dengan “Wangkang”.

Kapal Wangkang adalah jenis kapal yang ada di Tiongkok. Seluruh pelayaran dalam bidang perdagangan selalu menggunakan kapal jenis ini. Kapal ini merupakan kapal yang mampu untuk menempuh jarak yang jauh dan mengangkut atau menampung banyak barang dagangan yang akan diperdagangkan di luar daerah

Kapal Wangkang
Kapal Wangkang

Lokasi permukiman etnis Tionghoa dibangun di sekitar area Klenteng. Masyarakat akan selalu berusaha untuk membangun permukiman mereka dekat dengan fasilitas umum yang sering digunakan. Permukiman etnis Tionghoa selain dibangun dekat dengan Klenteng Caow Eng Bio juga dibangun dekat dengan pantai yang merupakan sumber mata pencaharian. Didukung dengan letak tempat peribadahan umat Buddha di Tanjung Benoa ini yang memang harus berada di depan laut. Klenteng harus dibangun di depan laut karena Klenteng Caow Eng Bio merupakan Konco yang memuja Dewa Laut.

Kelenteng Caow Eng Bio
Kelenteng Caow Eng Bio

Permukiman etnis yang disebut sebagai pendatang pertama yang tiba dan menetap di Tanjung Benoa ini, awalnya berada di beberapa lingkungan banjar yang ada karena jumlahnya yang banyak. Lingkungan Panca Bhinneka, Tengah dan Purwa Santhi awalnya menjadi kawasan permukiman masyarakat Tionghoa yang dipenuhi dengan rumah-rumah etnis yang datang dari Tiongkok ini. Area permukiman sebelumnya cukup luas akibat jumlah etnik Tionghoa yang banyak di Tanjung Benoa.

Sejak pindahnya pelabuhan dari Tanjung Benoa ke Benoa, jumlah masyarakat etnis Tionghoa mulai berkurang. Mata pencaharian dalam perdagangan perlahan mulai menyurut, sehingga banyak yang pindah ke Benoa dan daerah pesisir lainnya, seperti Kuta. Saat ini lokasi permukiman etnis Tionghoa tersebar di sekitar Klenteng, lingkungan banjar Tengah, Purwa Santhi dan sedikit masuk ke Lingkungan Panca Bhinneka dengan jumlah yang sedikit. (sumber: PPS Unud)

Lanjut ke Sejarah Tanjung Benoa bagian 2, silakan baca disini

Kasi 5 Bintang Dong
(3 suara)

432 Shares

Leave a Comment