- Sejarah perkembangan watersport di Tanjung Benoa dimulai pada era 1980-an, menjadikannya pusat rekreasi bahari yang terkenal di Bali.
- Tanjung Benoa ditetapkan sebagai kawasan wisata tirta resmi pada 1993, meningkatkan investasi dan pengelolaan lingkungan.
- Kini, Tanjung Benoa menjadi pusat watersport terbesar di Bali dengan beragam aktivitas dan kunjungan wisatawan yang terus meningkat.
Temukan pesona Tanjung Benoa yang tak hanya menawarkan serunya watersport, tetapi juga sejarah yang kaya dan budaya yang harmonis. Baca selengkapnya!
Berawal dari sebuah desa nelayan tradisional yang tenang, sejarah perkembangan watersport di Tanjung Benoa mulai menggeliat pada era 1980-an seiring dengan pesatnya pembangunan kawasan elit Nusa Dua. Transformasi ini mengubah wajah pesisir semenanjung tersebut menjadi pusat rekreasi bahari.
Sebelum pandemi Covid-19 menghantam industri pariwisata global, kawasan watersport di Tanjung Benoa mampu melayani sekitar 2.500–3.000 wisatawan per hari. Angka itu menjadikannya salah satu pusat wisata tirta tersibuk di Indonesia. Bahkan, kajian ilmiah terbaru menunjukkan nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) mencapai 90,27% dengan kategori S2 (cukup sesuai), sementara aktivitas parasailing masuk kategori S1 (sangat sesuai). Data tersebut menegaskan bahwa kawasan ini bukan sekadar populer, tetapi juga layak secara ekologis dan teknis untuk wisata bahari.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan Tanjung Benoa sebagai salah satu dari sekitar 16 kawasan wisata tirta resmi di Bali melalui SK Gubernur No.359 Tahun 1993. Keputusan tersebut memperkuat posisi Tanjung Benoa sebagai “home base” olahraga air di Pulau Dewata. Kini, meskipun angka kunjungan masih fluktuatif, kawasan ini tetap bergerak dinamis dengan rata-rata ratusan wisatawan per hari dan pergeseran pasar yang cukup signifikan, terutama dari wisatawan India yang kini menyumbang sekitar 30% kunjungan mancanegara.
Perjalanan panjang itu tidak terjadi dalam semalam. Tanjung Benoa tumbuh melalui proses sejarah berabad-abad, berlapis budaya, dan penuh adaptasi.

4 Era Sejarah Perkembangan Watersport di Tanjung Benoa
Ada 4 era kronologi sejarah perkembangan watersport di Tanjung Benoa, diantaranya:
1. Era Pelabuhan Dagang dan Desa Nelayan (Abad ke-16)
Sejak abad ke-16, Tanjung Benoa telah dikenal sebagai pelabuhan kecil bernama “Benua”. Letaknya berupa semenanjung dengan perairan tenang menjadikannya pelabuhan alami yang ideal bagi kapal layar tradisional. Ombak besar pecah di luar gugusan terumbu karang, sementara perairan dekat pantai tetap relatif dangkal dan bersahabat.
Arus kapal dagang dari Tiongkok, Jawa, hingga Sulawesi membentuk dinamika sosial yang unik. Komunitas Hindu Bali hidup berdampingan dengan Muslim Bugis dan Jawa serta etnis Tionghoa. Hingga kini, pura, masjid, dan klenteng berdiri dalam radius yang tidak berjauhan. Harmoni itu bukan sekadar cerita, tetapi realitas yang terlihat jelas di lapangan.



Mayoritas warga saat itu bekerja sebagai nelayan. Mereka melaut sejak fajar, kembali ketika matahari mulai condong. Aktivitas ekonomi bertumpu pada hasil tangkap, pengolahan ikan, dan perdagangan kecil. Namun tanpa disadari, kondisi alam yang tenang tersebut menjadi fondasi emas bagi masa depan wisata bahari.
Baca: Asal Usul Nama Tanjung Benoa
2. Era Pengenalan Watersport Modern (1970–1980-an)
Memasuki awal 1970-an, arah pembangunan Bali selatan berubah drastis. Pemerintah mengembangkan kawasan BTDC Nusa Dua sebagai destinasi hotel berbintang internasional. Tanjung Benoa diposisikan sebagai kawasan penyangga dengan fokus wisata bahari.
Pada tahun 1973, Amir Sarafudin, seorang prajurit TNI AL, memperkenalkan aktivitas jetski dan banana boat secara komersial. Langkah itu menjadi titik awal watersport modern di Tanjung Benoa. Konsepnya memang sederhana, tetapi wisatawan menunjukkan antusiasme tinggi. Perairan yang tenang memberikan rasa aman, terutama bagi pemula.


Selanjutnya, pada 20 Oktober 1985, I Wayan Suweja mendirikan Benoa Marine Recreation (BMR) sebagai operator watersport terorganisir pertama. BMR menerapkan standar operasional keselamatan yang lebih modern dibanding usaha kecil sebelumnya. Kehadirannya memicu pertumbuhan operator lain seperti Bali Dolphin Watersport.
Sejak saat itu, permainan bertambah: parasailing, scuba diving, hingga fishing trip. Permintaan terus meningkat karena wisatawan Nusa Dua hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencapai lokasi. Watersport di Tanjung Benoa mulai menemukan identitasnya.
3. Era Penetapan Resmi Kawasan Wisata Tirta (1993)
Tahun 1993 menjadi tonggak penting. Pemerintah Provinsi Bali menerbitkan SK Gubernur Nomor 359 Tahun 1993 yang menetapkan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata tirta resmi. Status hukum tersebut memberikan kepastian bagi investor dan pelaku usaha lokal.

Setelah penetapan itu, investasi meningkat signifikan. Operator menambah armada speedboat dan jetski, membangun dermaga kecil, ruang ganti, serta sistem tiket yang lebih rapi. Selain itu, komunitas adat dan pemerintah mulai memperkuat pengelolaan lingkungan. Program kebersihan pantai dan pengawasan aktivitas laut berjalan lebih terstruktur.
Brand “Tanjung Benoa Watersport” semakin dikenal luas melalui brosur agen perjalanan dan paket tur hotel. Kawasan ini pun menjadi gerbang utama wisata bahari bagi wisatawan yang menginap di Nusa Dua, Jimbaran, hingga Kuta Selatan.
4. Era Konsolidasi dan Penguatan Brand Watersport (2000-an–Sekarang)
Memasuki era 2000-an, Tanjung Benoa berkembang pesat sebagai pusat watersport terbesar di Bali. Variasi permainan semakin lengkap: jetski, banana boat, parasailing, flyboard, rolling donut, snorkeling, hingga diving.
Cek: Harga Watersport Tanjung Benoa
Penelitian tentang “Kesesuaian Wisata Bahari di Pantai Tanjung Benoa, Provinsi Bali” menunjukkan nilai IKW 90,27%. Banana boat berada pada kategori S2 (sesuai), sedangkan parasailing masuk kategori S1 (sangat sesuai). Faktor kedalaman air, arus, dan gelombang mendukung aktivitas rekreasi laut yang aman bagi keluarga maupun pemula.
Dari sisi manajemen, operator besar seperti BMR menerapkan fungsi perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan operasional secara konsisten. Pendekatan kekeluargaan tetap dijaga, namun standar keselamatan terus ditingkatkan. Kombinasi ini menjaga reputasi kawasan meski persaingan semakin ketat.
Tabel Sejarah Perkembangan Watersport Tanjung Benoa
| No | Era | Periode | Poin Penting |
|---|---|---|---|
| 1 | Era Pelabuhan & Desa Nelayan | Abad ke-16–1960-an | Pelabuhan ‘Benua’, masyarakat nelayan multietnis, perairan tenang jadi fondasi alami wisata bahari. |
| 2 | Era Pengenalan Watersport | 1970–1980-an | 1973 mulai jetski & banana boat; 1985 berdiri Benoa Marine Recreation (BMR) sebagai operator modern pertama. |
| 3 | Era Penetapan Wisata Tirta | 1993 | SK Gubernur No.359/1993 menetapkan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata tirta resmi; investasi dan fasilitas meningkat. |
| 4 | Era Konsolidasi & Branding | 2000-an–Sekarang | Variasi permainan lengkap, nilai IKW 90,27% (S2), dikenal sebagai pusat watersport terbesar di Bali. |
Galeri Watersport di Tanjung Benoa











Bagi yang mau booking Watersport Tanjung Benoa, silakan hubungi kami melalui WhatsApp berikut:
Tren Kunjungan Wisatawan di Era Terkini
Lonjakan Pra-Pandemi
Sebelum 2020, kunjungan harian mencapai 2.500–3.000 wisatawan. Puncaknya terjadi saat musim liburan sekolah dan akhir tahun. Paket keluarga menjadi produk favorit karena menawarkan kombinasi permainan dengan harga lebih hemat.
Penurunan Drastis Saat Pandemi
Selama pandemi, aktivitas hampir berhenti total. Angka kunjungan turun drastis hingga mendekati nol. Dampaknya terasa langsung pada ekonomi lokal yang sangat bergantung pada wisata tirta.
Fase Pemulihan 2023–2024
Sejak awal 2023, kunjungan mulai naik secara bertahap hingga sekitar 60% dari kondisi normal. Rata-rata 500–600 wisatawan per hari datang, didominasi wisatawan domestik. Operator kembali merekrut tenaga kerja yang sempat dirumahkan.
Dinamika 2025–2026 dan Pergeseran Pasar
Data lapangan 2025–2026 menunjukkan rata-rata kunjungan sekitar 250 orang per hari untuk aktivitas watersport reguler. Namun pada musim liburan, total kunjungan kawasan bisa kembali menyentuh 3.000 orang per hari. Menariknya, wisatawan India kini menyumbang sekitar 30% kunjungan mancanegara, meningkat signifikan dibanding periode sebelum pandemi.
Wisata Edukasi dan Konservasi: Peran Pulau Penyu
Seiring pertumbuhan industri, kesadaran lingkungan ikut meningkat. Di sinilah Pulau Penyu Tanjung Benoa memainkan peran penting. Tempat ini menjadi pusat konservasi penyu hijau yang dikelola masyarakat lokal dengan dukungan pemerintah.
Sejarah berdirinya Pulau Penyu berkaitan dengan krisis populasi penyu hijau pada era 1990–1999, ketika konsumsi penyu untuk makanan dan ritual keagamaan membuat populasinya nyaris punah di Bali. Kemudian, pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan penangkapan dan perdagangan penyu hijau, kecuali untuk kebutuhan ritual yang sangat terbatas, sehingga penangkaran dan konservasi menjadi solusi penting guna memulihkan populasi.


Di Pulau Penyu, wisatawan dapat melihat telur, tukik, hingga penyu dewasa. Beberapa program pelepasan tukik melibatkan pengunjung secara langsung. Aktivitas ini tidak hanya memberikan pengalaman unik, tetapi juga menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem laut.
Dengan demikian, Tanjung Benoa tidak hanya dikenal sebagai pusat watersport Bali, tetapi juga sebagai contoh kolaborasi antara industri pariwisata dan konservasi bahari.
Cek: Harga Tiket Masuk Pulau Penyu Bali
Kesimpulan
Sejarah perkembangan watersport di Tanjung Benoa mencerminkan transformasi panjang dari pelabuhan kecil abad ke-16 menjadi pusat wisata tirta modern. Kondisi alam yang tenang menjadi modal awal. Inisiatif pionir pada 1973 membuka jalan. Penetapan resmi tahun 1993 mempercepat investasi dan penguatan brand.
Meskipun pandemi sempat memukul keras, kawasan ini menunjukkan daya tahan yang kuat. Pergeseran pasar dan penguatan ekowisata menjadi strategi adaptif yang menjaga relevansi destinasi.
Kini, Tanjung Benoa berdiri bukan hanya sebagai pusat permainan air, melainkan sebagai studi kasus sukses bagaimana desa pesisir dapat berevolusi melalui kolaborasi, inovasi, dan kesadaran lingkungan. Gelombang datang dan pergi, tetapi semangatnya tetap bergerak maju.

FAQ
Berikut hal yang sering ditanyakan mengenai Sejarah Perkembangan Watersport di Tanjung Benoa
Tanjung Benoa mulai dikenal sebagai pusat watersport sejak era 1980-an, ketika hotel-hotel di kawasan BTDC Nusa Dua beroperasi dan wisatawan membutuhkan atraksi laut terdekat. Titik pentingnya terjadi pada 1973 saat Amir Sarafudin memperkenalkan jetski dan banana boat komersial, lalu diperkuat dengan berdirinya Benoa Marine Recreation (BMR) pada 1985 sebagai perusahaan watersport besar dan terorganisir pertama di kawasan ini.
SK Gubernur Bali No.359 Tahun 1993 menetapkan Tanjung Benoa sebagai salah satu lokasi resmi wisata tirta di Bali. Keputusan ini memberikan kepastian hukum bagi pengembangan usaha watersport, mendorong investasi, dan mengukuhkan posisi Tanjung Benoa sebagai resor wisata tirta yang fokus pada aktivitas olahraga air modern.
Secara alami, pantai Tanjung Benoa terlindungi oleh terumbu karang sehingga ombak besar pecah jauh dari garis pantai dan menciptakan perairan yang tenang serta relatif dangkal di dekat pesisir. Selain itu, kajian ilmiah menunjukkan bahwa berdasarkan parameter kedalaman, kecerahan air, arus, dan gelombang, Pantai Tanjung Benoa memiliki Indeks Kesesuaian Wisata sekitar 90,27% (kategori S2), dengan banana boat tergolong sesuai (S2) dan parasailing sangat sesuai (S1).
Sebelum pandemi, kunjungan wisatawan ke kawasan watersport Tanjung Benoa rata-rata berada di angka sekitar 2.500–3.000 orang per hari. Setelah pandemi, angka tersebut sempat turun drastis, lalu perlahan naik menjadi sekitar 500–600 orang per hari pada awal 2023. Data terbaru lapangan menunjukkan rata-rata harian sekitar 250 wisatawan, dengan variasi musiman dan tren pergeseran pasar dari dominasi wisatawan domestik menuju peningkatan signifikan wisatawan India.
Pulau Penyu di Tanjung Benoa adalah kawasan konservasi dan penangkaran penyu hijau serta beberapa spesies penyu laut lain yang dikelola masyarakat dengan dukungan pemerintah. Lokasinya diakses melalui perjalanan singkat dengan glass bottom boat dari pantai Tanjung Benoa, sehingga sering dikemas dalam satu paket dengan aktivitas watersport. Destinasi ini menawarkan wisata edukasi tentang konservasi penyu, sekaligus menjadi penyeimbang ekowisata di tengah padatnya aktivitas permainan air bermesin di Tanjung Benoa.
Sebagian besar operator watersport di Tanjung Benoa telah menerapkan SOP keselamatan, menyediakan jaket pelampung, briefing singkat, dan pendamping instruktur untuk aktivitas seperti jetski, parasailing, maupun banana boat. Selain itu, karakter perairan yang tenang dan landai sangat membantu meningkatkan aspek keamanan, terutama bagi pemula dan keluarga yang baru pertama kali mencoba olahraga air rekreasi. Meskipun demikian, wisatawan tetap disarankan mematuhi instruksi pemandu dan memilih operator resmi yang memiliki reputasi baik.
Perkembangan watersport di Tanjung Benoa mengubah struktur ekonomi desa dari basis nelayan tradisional menjadi masyarakat yang banyak bergantung pada sektor pariwisata, baik sebagai pemilik usaha, pekerja lapangan, pemandu, maupun pelaku usaha pendukung seperti transportasi dan kuliner. Selain itu, masyarakat lokal juga terlibat dalam pengelolaan destinasi konservasi seperti Pulau Penyu, sehingga mendapatkan tambahan sumber pendapatan sekaligus berperan aktif dalam pelestarian lingkungan laut.









