Sejarah Tanjung Benoa (bagian 2)

44 Shares

Hi Pencinta Watersport Bali. Menyambung postingan Sejarah Tanjung Benoa (bagian 1) disini, kali ini kami akan sambung ke bagian 2. Baik, sebelum mengarah ke sejarahnya, kita bahas sebentar dulu lokasi Tanjung Benoa secara geografis. Terletak di kaki Pulau Bali, tepatnya di Kecamatan Kuta Selatan. Tanjung Benoa terletak antara 8º 45′ 33.2″ Lintang Selatan dan 115º 13; 17.6″ – 115º 13′ 41.3″ Bujur Timur. Desa adat ini yang berada di pesisir pantai dan berada dekat dengan pelabuhan Benoa. Sebagian besar sisi kawasan ini berbatasan langsung dengan laut, kecuali bagian selatan yang berbatasan dengan Desa Adat Tengkulung.

Peta Tanjung Benoa

Adapun batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

  • Utara berbatasan dengan Selat Badung atau Pantai Tanjung Benoa
  • Timur berbatasan dengan Selat Nusa Penida atau Pantai Nusa Dua
  • Selatan berbatasan dengan Desa Adat Tengkulung
  • Barat berbatasan dengan Pantai Barat Tanjung Benoa.

Kelurahan Tanjung Benoa ini terdiri dari dua desa Adat, yaitu :

  1. Desa Adat Tengkulung yang terdiri dari satu banjar, yaitu Banjar Tengkulung
  2. Desa Adat Tanjung Benoa yang terdapat lima lingkungan banjar. Kelima lingkungan banjar adalah Lingkungan Banjar Kertha Pascima, Lingkungan Banjar Purwa Santhi, Lingkungan Banjar Anyar, Lingkungan Banjar Tengah dan Lingkungan Banjar Panca Bhinneka

Sejarah Tanjung Benoa Bali (2)

Pada bagian 1 Sejarah Tanjung Benoa, disana dijelaskan tentang etnis Tionghoa yang pertama kali datang ke Tanjung Benoa. Sedangkan yang kedua adalah etnik Bali.

2. Etnik Bali

Sejarah Tanjung Benoa – Kedatangan Etnik Bali

Etnis Bali merupakan etnik kedua yang datang setelah kedatangan etnik Tionghoa. Masyarakat etnis Bali yang datang pertama kali ke Desa Adat Tanjung Benoa berasal dari Klungkung pada zaman kerajaan yaitu sekitar abad ke-17. Masyarakat yang datang kemudian berasal dari beberapa daerah di Bali, seperti dari Gianyar khususnya Sukawati dan etnis yang dominan beragama Hindu yang terakhir datang ke daerah ini berasal dari Nusa Penida. Hal ini diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan Bendesa Adat Tanjung Benoa yang memaparkan,

…Hindu (Bali) campuran dari seluruh Kabupaten se-Bali, tapi yang pertama dari Klungkung, Hindu dari Klungkung pada zaman kerajaan…etnis Bali atau Hindu yang terakhir datang ke sini adalah orang Bali dari Nusa Penida…

Keadaan Pulau Pudut (sekarang lebih dikenal sebagai Pulau Penyu Bali) yang terletak di sebelah Barat dari Desa Adat Tanjung Benoa pada tahun 1970-an mulai terabrasi dan hampir tenggelam. Keadaan pulau ini menyebabkan Masyarakat Tanjung Benoa yang dulunya tinggal di Pulau Pudut mulai pindah ke wilayah desa adat ini pada tahun 1972, seperti kutipan dari wawancara dengan Bapak Bendesa, I Nyoman Wana Putra,

…di Pulau Pudut dulu ada perumahan tapi karena ia menipis, masyarakatnya pindah ke daerah sini. Sekarang pulau terabrasi hampir tenggelam dan ini mau direklamasi…

Lokasi permukiman etnis Bali tersebar di seluruh lingkungan yang ada di Tanjung Benoa. Lingkungan banjar yang paling banyak dihuni oleh etnis Bali ini adalah lingkungan banjar Purwa Santhi, Tengah, Kertha Pascima dan Anyar. Saat ini etnis Bali menjadi etnis yang memiliki jumlah paling banyak, sehingga menjadi etnis yang dominan.
Etnik Bali juga terdapat pada Lingkungan Banjar Panca Bhinneka. Masyarakat etnis Bali yang terdapat di lingkungan banjar ini, jumlahnya sangat sedikit karena lingkungan ini lebih dominan ditinggali oleh masyarakat dari etnis yang beragama Islam, seperti etnis Bugis dan Jawa. Hal ini karena tempat peribadatan bagi umat Muslim dibangun di daerah ini

Kawasan barat dari Lingkungan Anyar banyak dibangun fasilitas umum, seperti kuburan, pura, sekolah, kantor dan fasilitas pendukung pariwisata dengan penggunaan lahan yang cukup luas. Fasilitas pedukung pariwisata yang paling banyak dibangun adalah hotel, mini market dan fasilitas lainnya yang mendukung kegiatan hiburan. Fasilitas-fasilitas umum ini yang menyebabkan hampir tidak terdapat permukiman penduduk kecuali di bagian tengah dari Lingkungan Anyar.

Sejarah Tanjung Benoa
Sejarah Tanjung Benoa – Lokasi permukiman Etnik Bali

3. Etnik Bugis

Sejarah Tanjung Benoa – Kedatangan Etnik Bugis

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat istiadat. Penyebaran pertama masyarakat Bugis adalah pada abad ke-15 hingga abad ke-19. Penyebaran terjadi saat terjadinya konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis dan menciptakan ketidaktenangnya di daerah Sulawesi Selatan. Peperangan dan pemberontakan inilah yang akhirnya mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya dan bermigrasi ke daerah lain untuk keamanan dan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan, sehingga banyak orang Bugis tersebar di berbagai provinsi Indonesia hingga ke mancanegara.

Menurut beberapa sumber baik dari Bendesa Adat Tanjung Benoa dan Kelian Banjar Panca Bhinneka, etnis Bugis merupakan etnis ketiga yang datang dan mulai menetap di Desa Adat Tanjung Benoa pada tahun 1950-an. Berikut adalah kutipan dari wawancara dengan Bendesa Adat yang menyatakan,

…masyarakat Bugis adalah nomor tiga datang, dimana Buddha dulu atau Tionghoa, Hindu baru Islam yang dari Bugis, nah karena ini daerah perlabuhan, kemungkinan orang Hindu Bali datang karena mendengar Tionghoa datang…

Hal ini didukung dengan cerita dari Kelian Banjar Panca Bhinneka, Suardi Indrajaya mengenai kedatangan etnis Bugis,

…Bugis datang setelah ada Tionghoa sama Bali di sini, dengan Kapal Bugis Sawerigading, hal ini mungkin karena terdapat pantai dan jalur perdagangan atau juga kemungkinan ada semacam perang di tempat asalnya di Sulawesi itu. Etnis kita ini datang kira-kira sekitar tahun 1950-an soalnya tahun ini yang saya ketahui terjadi pemberontakan…

Etnis Bugis banyak yang bermigrasi ke daerah pesisir karena masyarakat Bugis awalnya tinggal di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Kepindahan masyarakat Bugis ke Tanjung Benoa Bali yang merupakan pesisir disebabkan oleh beberapa hal. Pertama jiwa merantau mereka yang sangat besar dan kepiawaian mereka dalam mengarungi samudra. Pekerjaan mereka sebagai nelayan juga menyebabkan mereka memilih Tanjung Benoa yang merupakan daerah pesisir. Selain itu, awalnya terdapat pelabuhan di Tanjung Benoa dan menjadi salah satu jalur perdagangan, sehingga masyarakat Bugis yang merupakan pedagang datang ke daerah ini.

Menurut penduduk setempat, etnik Bugis pertama kali datang ke Tanjung Benoa menggunakan kapal yang disebut dengan “Kapal Bugis Sawerigading”. Sebenarnya kapal tersebut memiliki nama “Kapal Pinisi“. Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia yang telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad lalu dan diperkirakan sudah ada sebelum abad ke-15. Kapal ini berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari Desa Bira Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan dan dua di belakang.

Kapal Pinisi
Kapal Pinisi

Kapal Pinisi ini umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antar-pulau. Dua tiang layar utama tersebut berdasarkan 2 kalimat syahadat dan tujuh buah layar merupakan jumlah dari surah Al-Fatihah. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar (dua tiang) dengan tujuh helai layar yang dan juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera besar di dunia.

Menurut naskah Lontarak Babad I La Lagaligo (anak dari Sawerigading dan I We Cudai dan pembuat karya sastra terbesar di dunia) pada abad ke-14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu. Kapal ini dibuat untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama I We Cudai. Mungkin karena kisah Sawerigading dan kapalnya yang sangat terkenal dalam tradisi masyarakat Bugis, maka masyarakat Bugis sering menyebutnya dengan “Kapal Bugis Sawerigading”.

Masyarakat Bugis yang datang terlebih dahulu membangun fasilitas peribadatan berupa masjid, Masjid Jami’ Mujahidin dibangun pada tgl 8 Maret 1997 atau 28 Syawal 1417 H. Awalnya yaitu pada saat masyarakat Bugis mulai datang di Kawasan Tanjung Benoa, tempat ibadah untuk umat Islam hanya berupa langgar (masjid kecil) yang dijadikan tempat untuk memberikan ceramah dan sembahyang (salat). Semakin lama, semakin banyak penduduk Islam yang datang, maka dibangun sebuah Masjid yang digunakan untuk menampung seluruh masyarakat Tanjung Benoa yang beragama Islam. Berikut foto Masjid Jami’ Mujahidin di Tanjung Benoa

Masjid Jami' Mujahidin
Masjid Jami' Mujahidin
Masjid Jami' Mujahidin
Masjid Jami' Mujahidin
Sumber foto: balimuslim.com

Masyarakat Bugis yang dominan beragama Islam ini membangun permukiman di sekitar Masjid dan seluruh Lingkungan Panca Bhinneka, terletak di bagian barat laut dari Desa Adat Tanjung Benoa. Menurut Kelian Panca Bhinneka nama Panca Bhinneka didapatkan dari jumlah etnik yang tinggal di kawasan ini, seperti kutipan dari wawancara yang dilakukan kepada Bapak Suardi ini yang menyatakan bahwa,

…kata “Panca” itu memiliki arti lima yang mana menandakan terdapat lima etnik yang tinggal di sini, di Panca Bhinneka ini, itu ada, maksudnya selain Bugis dan Jawa ada etnis Bali, Tionghoa dan etnis yang dari Flores itu yang juga tinggal di sini, ya walaupun tidak banyak cuma sedikit saja. Terus kata “Bhinneka” itu bisa memiliki arti satu ya atau mungkin sama-sama, sehingga dari dulu sudah di sebut Panca Bhinneka…

Masyarakat Bugis yang tinggal di daerah ini banyak yang berasal dari Makassar dan Mandar. Desa Adat Tanjung Benoa mengalami penambahan penduduk khususnya di Lingkungan Panca Bhinneka karena tidak hanya etnis Bugis dan Jawa saja yang tinggal di daerah ini. Pada lingkungan banjar ini terjadi penambahan penduduk dari beberapa kota di Indonesia, seperti dari Sumatra (Medan, Lampung dan Padang) serta Lombok, tetapi tidak banyak hanya beberapa orang saja. Penambahan penduduk ini tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap etnis dominan yang tinggal di Lingkungan Banjar Panca Bhinneka.

Warga yang ingin masuk dalam di Lingkungan Banjar Panca Bhinneka diharuskan memiliki tempat tinggal di daerah ini dan memiliki surat pindah dari daerah asal. Sekitar tahun 2000-an terdapat keringanan untuk anggota banjar yang tidak memiliki tempat tinggal di lingkungan banjar (tinggal di kawasan Nusa Dua). Keringanan ini diberikan karena banjar ini kekurangan lahan untuk membangun tempat tinggal tambahan. (sumber: PPS Unud)

Lanjut ke Sejarah Tanjung Benoa bagian 3, silakan baca disini

Kasi 5 Bintang Dong
(0 suara)

44 Shares

Leave a Comment